Ingin Bercinta

Ingin Bercinta

Ingin Bercinta

Mengajak bercinta kepada pasangan tidak ada salahnya. Memberi tahu dia bahwa Anda siap untuk melakukan hubungan seksual dengannya bisa menjadi hal yang ditunggunya. Mungkin Anda khawatir akan ditolak atau Anda merasa tidak yakin dengan cara mengutarakan perasaan Anda kepadanya.

Alasan yang paling utama adalah kenyamanan. Terutama kenyamanan psikologis. Kedekatan emosional. Enough said. Karena itu kalau ada perempuan “minta jatah” ke pasangannya, berarti perempuan itu sudah sangat nyaman dengan pasangannya (bisa saja sih, untuk membuktikan sesuatu, tapi faktor emosional dan sisi gelap seks belum akan saya bahas di sini saat ini).

Perempuan itu sedang bahagia dan nyaman, baik dengan pasangannya maupun dengan dirinya sendiri. Merasa seksi. Merasa cantik. Atau kalau saya, sedang merasa senang karena tulisannya jadi viral atau dipuji klien (workaholic memang).

Kebayang enggak, kesalnya dibilang “kaya kucing birahi” ketika sedang menggelendot manja ke pasangan (kisah seorang teman perempuan saat cigarette break yang sukses bikin saya ketawa lepas suatu siang)? Atau ditolak dengan alasan, “Besok pagi harus presentasi”.

Apa yang salah dari menjadi proaktif dan meminta seks duluan? Entah dari mana asalnya penghambat mental yang sebegitu tertanam dalamnya di alam bawah sadar perempuan yang menjadikannya hampir selalu sebagai yang menerima, atau at the receiving end of sex. Kalau jadi inisiator itu tadi, akan diejek “kaya kucing birahi”.

Seks seharusnya bukan perkara menang-kalah, atau memberi-menerima dalam batasan yang rigid. Seks seharusnya sesuatu yang menyenangkan, yang fluid dengan pergantian peran (role reversal) yang bebas, yang menyenangkan, dan fulfilling.

Untuk bisa menggemari seks, perempuan perlu nyaman dengan dirinya sendiri dulu. To be comfortable in their own skin. Perlu nyaman dengan dirinya sendiri, tahu apa yang dia mau, dan tidak takut memintanya.

Tidak hanya untuk nyaman telanjang, namun juga untuk berani meminta apa yang dia inginkan dari rekan seks. Untuk berani bilang dia menikmati seks jika A, jika B, jika C. Perlu berani bilang seks yang dia terima busuk dan si rekan seks harus work on it.

Perlu menghilangkan penghambat mental yang mengatakan “perempuan tidak pantas meminta seks”, “perempuan harusnya menikmati seks, apapun gaya goyangan yang dilakukan atau diminta si laki-laki”, “perempuan harus bisa memuaskan laki-laki”, dan segudang “harus” yang terucap atau tak terucap yang membuat pikiran perempuan ruwet. Bahkan hanya untuk bilang, “Lagi pengen banget. Kamu?”

Jika pasangan Anda menyatakan bahwa dia belum siap, cobalah bersikap memahami dan jangan mendesak dia. Mungkin dia masih ada sesuatu yang harus dilakukan, namun tidak ada salahnya anda memulai duluan dengan menyentuh lembut dirinya, siapa tahu dia berubah pikiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *